ABSTRAK
Komputer, merupakan
suatu alat untuk mempermudah pekerjaan manusia. Agar komputer dapat bekerja
dengan baik, dibutuhkan sistem operasi. Sistem operasi sendiri adalah suatu
perangkat lunak yang mengelola seluruh sumber daya didalam komputer dan
dikontrol oleh user. Untuk mengontrol sistem operasi, user dimudahkan dengan
fasilitas yang disediakan oleh pengembang sistem operasi tersebut. Salah satu
fasilitas yang berperan besar pada kemudahan dalam mengontrol sistem operasi
adalah user interface atau tampilan yang nampak pada layar monitor agar
pengguna tahu keadaan real time pada komputer yang sedang digunakannya.
Kata kunci : User Interface, Linux,
Tampilan, Komputer, Desktop
A.
PENDAHULUAN
Tampilan atau user
interface memang merupakan salah satu aspek penting. Karena tampilan akan
mempengaruhi daya manipulasi pengguna. Semakin komunikatif tampilan tersebut,
maka semakin mudah untuk digunakan. Pada tahun 1973, tampilan GUI atau
Graphical User Interface diaplikasikan untuk pertama kalinya pada komputer Alto
keluaran Xerox. Munculnya GUI merupakan terobosan besar pada dunia teknologi
komputer. GUI sangatlah mempermudah pengguna untuk mengoperasikan komputer yang
awalnya bertampilan CUI (Character User Interface) atau CLI (Command Line
Interface) dan pengguna harus menghafal dan mengetikkan perintah-perintah
tertentu untuk melakukan suatu pekerjaan yang pastinya membuat pengoprasian
komputer menjadi hal yang tidak umum. Pengguna komputer hanya sebatas
orang-orang yang pernah mempelajari pengoperasian komputer secara intensif. GUI
hadir sebagai solusi untuk membuat komputer menjadi hal yang lumrah dan dapat
dioperasikan oleh semua orang bahkan anak-anak. Berbagai sistem operasi
memiliki tampilannya masing-masing yang disesuaikan dengan target penggunaannya.
Misalnya untuk penggunaan standar seperti menjelajah internet dan melakukan
pengolahan data, tampilan dibuat sederhana dengan kemudahan dalam mengakses
aplikasi yang dibutuhkan.
B.
PEMBAHASAN
a.
Latar
belakang
Kini, user interface
telah berkembang dengan pesat. Tuntutan pengguna yang menginginkan tampilan
yang indah dipandang dan mudah digunakan membuat user interface selalu
berkembang bahkan setiap tahunnya. Inovasi dalam hal tampilan terus bermunculan
dari berbagai platform. Tren dari tahun ke tahun terus berubah dan terkesan
seperti
muncul “era baru” dalam dunia
komputerisasi. Mulai dari tampilan yang mengusung desain 3D yang populer
beberapa tahun lalu, hingga desain flat yang sedang populer saat ini. Ikon, jendela,
tombol hingga statusbar pun berubah sesuai tren tersebut. Beragam vendor sistem
operasi kini menjadikan user interface sebagai ajang persaingan untuk menarik
hati pengguna karena memang saat ini tampilan merupakan salah satu aspek terbesar
yang menjadi tolak ukur dalam memilih sistem operasi.
Seperti halnya sitem
operasi lain, Linux pun mengalami perkembangan dalam hal tampilan. Dengan
lisensi opensource yang diterapkannya, Linux tidak seperti sistem operasi
komersil yang meiliki tim pengembang khusus, melainkan memiliki banyak
pengembang di seluruh dunia. Lisensi opensource yang membiarkan konten suatu produk
dapat diubah dan dikembangkan oleh siapapun
membuat Linux menjadi salah satu sistem operasi terfavorit. Mengembangkan tampilan
atau user interface merupakan salah satu hal yang paling digemari para
pengembang Linux. Ibarat tidak mau kalah, Linux pun turut mengikuti tren dan
semakin dilirik oleh pengguna awam (non-pengembang) yang menginginkan sistem
operasi dengan tampilan cantik, segar dan sedap dipandang mata.
b.
Perkembangan
GUI Pada Linux
Seiring berjalannya
waktu, GUI yang awalnya dicetuskan oleh Xerox mulai diaplikasikan pada platform
lain seperti Apple dengan LISA yang kemudian dikembangkan menjadi Machintosh,
VisiCorp dengan Visi On yang ditujukan untuk komputer keluaran IBM dan
Microsoft dengan Windows-nya.
Linux yang sudah
eksis sejak awal era komputerisasi modern pun mendapatkan adaptasi GUI pada
tahun 1984 dengan desktop yang bernama X Window System dengan versi awal yaitu
versi X1. Pada tahun 1985, X9 muncul sebagai versi terbaru dari X Window System
kemudian X11 keluar sebagai versi terakhir di tahun 1987.
![]() |
| Gambar b.1. X Window System (wikipedia) |
X Windows System awalnya adalah satu-satunya
desktop Linux berbasis GUI, namun pada tahun 1995, Matthias Ettrich, seorang
mahasiswa Universitas Eberhard Karls menciptakan desktop berbasis GUI untuk
Linux yang ia namakan K Desktop Environtment atau KDE.
| Gambar b.2. Tampilan KDE (wikipedia) |
Nama KDE sendiri
merupakan sebuah “pelesetan” dari desktop yang telah ada yaitu CDE yang
dikembangkan bersama oleh IBM, HP, dan Sun melalui X/Open Company (sebuah
konsorsium yang dicetuskan oleh beberapa vendor Unix Eropa pada tahun 1984
untuk mempromosikan standar terbuka pada teknologi informasi).
Setelah KDE “mengepalai”
ramainya user interface pada Linux, muncullah berbagai desktop entvirontment
baru dengan user interface yang berbeda pula. Pada tahun 1999, sebuah desktop
environtment baru lahir sebagai bagian dari proyek GNU, yaitu GNOME atau GNU
Network Object Model
Environtment. Proyek GNOME
awalnya direncanakan untuk mendistribusikan kerangka objek yang mirip dengan Microsoft’s
OLE. Namun kini akronim tersebut sudah tidak digunakan karena sudah tidak
sesuai dengan visi GNOME
Di masa transisi ke era
milenium, desktop seperti GNOME dan KDE memiliki banyak pengguna dan menjadi
default desktop bagi distro-distro Linux yang sudah ada. Seperti GNOME yang
menjadi default desktop untuk distro Ubuntu. Hingga kini, desktop-desktop
tersebut sudah berkembang jauh dari versi awalnya baik dalam hal grafis,
gestur, fasilitas dll. Seiring berkembangnya tren, ada banyak desktop linux
bermunculan yang keragamannya difokuskan sesuai kebutuhan pengguna yang beragam.
Mulai dari yang ciamik dengan banyak efek dan gestur, hingga yang sederhana dan
ringan. Satu Linux, banyak desktop. Pengguna dapat memilih desktop environtment
manapun yang cocok untuk diinstal pada Linux yang mereka gunakan. Misalnya,
apabila pada sebuah komputer terinstal Ubuntu Linux yang membawa Unity sebagai
default, maka pengguna dapat mengganti Unity dengan desktop environtment lain
apabila tidak nyaman dengan desktop default tersebut.
Salah satu desain UI
yang kini menjadi tren untuk desktop environtment pada Linux adalah desain flat
UI yang mengusung tampilan yang minimalis, dengan gradasi warna yang tajam,
tanpa tekstur dan gradien.
Desain yang sederhana
ini pertama kali diaplikasikan pada situs-situs web di internet. Desain yang
seperti ini memang sedap dipandang mata dengan warna-warna yang cerah dan tidak
membuat mata lelah melihatnya. Sekarang desain flat tidak digunakan sebatas
untuk situs web saja, bahkan desain ringkas ini sudah mulai menjadi tren untuk
user interface pada sistem operasi. Microsoft mulai menggunakan desain ini pada
Windows 8, Apple pun sudah menggunakan desain ini sejak tahun 2014 kemarin pada
OS X Yosemite (versi 10.10).
Linux sebagai sistem
operasi yang “hidup” perkembangannya pun mulai menggunakan desain flat dan meninggalkan desain 3D yang repot pada bagian bayangan, tekstur dll.
Contoh desktop environtment yang sudah menerapkan konsep flat UI adalah Android
(versi 4.4 keatas), Atom (OzonOS), KDE Plasma dan Budgie (kloning desktop
ChromiumOS). Sampai sekitar akhir 2011, Android mungkin bisa dinobatkan
sebagai sistm operasi berbasis Linux
dengan user interrface paling ramah dan mudah digunakan walaupun penggunaannya
dikhususkan untuk ponsel pintar. Namun setelah kemudahan pengoprasian semakin
berperan besar dalam menentukan tolak ukur peforma suatu sistem operasi, Linux
dengan penggunaan desktop terus mengembangkan diri dalam aspek tersebut.
Dalam hal menerapkan
tren tampilan pada desktop yang secara default menggunakan konsep khas yang
sama dengan versi-versi sebelumnya (seperti Unity, LXDE, Pantheon dll), Linux lebih
fleksibel karena berbagai macam desktop environtment dapat dimodifikasi dengan
sangat mudah dengan menggunakan satu software khusus yang disediakan untuk
memodifikasi desktop environtment yang digunakan yang disebut desktop tweak.
Sekali lagi berkat
lisensi yang memberi kebebasan seluruh pengguna Linux untuk memodifikasi dan
mengembangkannya, terciptalah banyak tema atau konsep tampilan meliputi ikon,
tampilan jendela, dll yang dibuat oleh banyak pengembang diseluruh dunia.
Tema-tema yang sudah dibuat kemudian diunggah ke internet dan dapat diunduh lalu
diaplikasikan oleh semua pengguna Linux baik secara cuma-cuma atau berbayar. Hal
yang paling menarik dalam desktop
tweaking adalah, pengguna dapat bebas menentukan konsep tampilan apa yang
akan diterapkan. Dari mulai flat UI yang sedang menjadi tren saat ini, desain
3D yang ciamik saat Windows XP berada di era kejayaan, sampai tampilan klasik yang
umum dijumpai pada awal abad 21.
![]() |
| Gambar b.3. Hasil penerapan Desktop Tweak pada Ubuntu Linux |
Pesatnya perkembangan
Linux, dapat dilihat dari munculnya berbagai distro baru dengan membawa desktop
environtment original-nya masing-masing. Tentu saja mengikuti tren, beberapa
tahun terakhir muncul distro dengan tampilan desktop yang ciamik dan kekinian.
Seperti OzonOS dan evolveOS yang sudah menerapkan konsep flat UI secara default
tanpa harus melakukan tweaking. Pengguna pun semakin dimudahkan untuk
mendapatkan sistem operasi dengan tampilan yang elegan, kekinian dan sedap
dipandang mata.
C.
KESIMPULAN
Dari pembahasan
diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa Linux bukanlah sistem operasi yang kaku
seperti dulu. Perkembangannya yang pesat telah membentuk “wajah baru” bagi
Linux yang awalnya terkesan hanya dibuat untuk orang yang mengerti ilmu
komputer dan membuat Linux menjadi sistem operasi yang umum dan dapat
digunakan, dimodifikasi, dan dikembangkan oleh siapapun bahkan secara bersama
dan secara langsung membentuk komunitas.
Linux akan terus berkembang
sebagai sistem operasi yang mampu mencukupi kebutuhan pengguna dari berbagai
bidang mulai dari pengolahan data, kebutuhan server, hiburan, sampai pendidikan
dan bidang-bidang lainnya.
D.
DAFTAR PUSTAKA
·
https://id.wikipedia.org/wiki/Object_Linking_and_Embedding


0 komentar:
Posting Komentar