Minggu, 27 September 2015

Wajah Linux Kini

ABSTRAK
Komputer, merupakan suatu alat untuk mempermudah pekerjaan manusia. Agar komputer dapat bekerja dengan baik, dibutuhkan sistem operasi. Sistem operasi sendiri adalah suatu perangkat lunak yang mengelola seluruh sumber daya didalam komputer dan dikontrol oleh user. Untuk mengontrol sistem operasi, user dimudahkan dengan fasilitas yang disediakan oleh pengembang sistem operasi tersebut. Salah satu fasilitas yang berperan besar pada kemudahan dalam mengontrol sistem operasi adalah user interface atau tampilan yang nampak pada layar monitor agar pengguna tahu keadaan real time pada komputer yang sedang digunakannya.
Kata kunci : User Interface, Linux, Tampilan, Komputer, Desktop


A.    PENDAHULUAN

Tampilan atau user interface memang merupakan salah satu aspek penting. Karena tampilan akan mempengaruhi daya manipulasi pengguna. Semakin komunikatif tampilan tersebut, maka semakin mudah untuk digunakan. Pada tahun 1973, tampilan GUI atau Graphical User Interface diaplikasikan untuk pertama kalinya pada komputer Alto keluaran Xerox. Munculnya GUI merupakan terobosan besar pada dunia teknologi komputer. GUI sangatlah mempermudah pengguna untuk mengoperasikan komputer yang awalnya bertampilan CUI (Character User Interface) atau CLI (Command Line Interface) dan pengguna harus menghafal dan mengetikkan perintah-perintah tertentu untuk melakukan suatu pekerjaan yang pastinya membuat pengoprasian komputer menjadi hal yang tidak umum. Pengguna komputer hanya sebatas orang-orang yang pernah mempelajari pengoperasian komputer secara intensif. GUI hadir sebagai solusi untuk membuat komputer menjadi hal yang lumrah dan dapat dioperasikan oleh semua orang bahkan anak-anak. Berbagai sistem operasi memiliki tampilannya masing-masing yang disesuaikan dengan target penggunaannya. Misalnya untuk penggunaan standar seperti menjelajah internet dan melakukan pengolahan data, tampilan dibuat sederhana dengan kemudahan dalam mengakses aplikasi yang dibutuhkan.

B.    PEMBAHASAN

a.     Latar belakang

 Kini, user interface telah berkembang dengan pesat. Tuntutan pengguna yang menginginkan tampilan yang indah dipandang dan mudah digunakan membuat user interface selalu berkembang bahkan setiap tahunnya. Inovasi dalam hal tampilan terus bermunculan dari berbagai platform. Tren dari tahun ke tahun terus berubah dan terkesan seperti

muncul “era baru” dalam dunia komputerisasi. Mulai dari tampilan yang mengusung desain 3D yang populer beberapa tahun lalu, hingga desain flat yang sedang populer saat ini. Ikon, jendela, tombol hingga statusbar pun berubah sesuai tren tersebut. Beragam vendor sistem operasi kini menjadikan user interface sebagai ajang persaingan untuk menarik hati pengguna karena memang saat ini tampilan merupakan salah satu aspek terbesar yang menjadi tolak ukur dalam memilih sistem operasi.
Seperti halnya sitem operasi lain, Linux pun mengalami perkembangan dalam hal tampilan. Dengan lisensi opensource yang diterapkannya, Linux tidak seperti sistem operasi komersil yang meiliki tim pengembang khusus, melainkan memiliki banyak pengembang di seluruh dunia. Lisensi opensource yang membiarkan konten suatu produk dapat diubah dan dikembangkan oleh  siapapun membuat Linux menjadi salah satu sistem operasi terfavorit. Mengembangkan tampilan atau user interface merupakan salah satu hal yang paling digemari para pengembang Linux. Ibarat tidak mau kalah, Linux pun turut mengikuti tren dan semakin dilirik oleh pengguna awam (non-pengembang) yang menginginkan sistem operasi dengan tampilan cantik, segar dan sedap dipandang mata.

b.    Perkembangan GUI Pada Linux
Seiring berjalannya waktu, GUI yang awalnya dicetuskan oleh Xerox mulai diaplikasikan pada platform lain seperti Apple dengan LISA yang kemudian dikembangkan menjadi Machintosh, VisiCorp dengan Visi On yang ditujukan untuk komputer keluaran IBM dan Microsoft dengan Windows-nya.
Linux yang sudah eksis sejak awal era komputerisasi modern pun mendapatkan adaptasi GUI pada tahun 1984 dengan desktop yang bernama X Window System dengan versi awal yaitu versi X1. Pada tahun 1985, X9 muncul sebagai versi terbaru dari X Window System kemudian X11 keluar sebagai versi terakhir di tahun 1987.
Gambar b.1. X Window System (wikipedia)
 X Windows System awalnya adalah satu-satunya desktop Linux berbasis GUI, namun pada tahun 1995, Matthias Ettrich, seorang mahasiswa Universitas Eberhard Karls menciptakan desktop berbasis GUI untuk Linux yang ia namakan K Desktop Environtment atau KDE. 
Gambar b.2. Tampilan KDE (wikipedia)
Nama KDE sendiri merupakan sebuah “pelesetan” dari desktop yang telah ada yaitu CDE yang dikembangkan bersama oleh IBM, HP, dan Sun melalui X/Open Company (sebuah konsorsium yang dicetuskan oleh beberapa vendor Unix Eropa pada tahun 1984 untuk mempromosikan standar terbuka pada teknologi informasi).
Setelah KDE “mengepalai” ramainya user interface pada Linux, muncullah berbagai desktop entvirontment baru dengan user interface yang berbeda pula. Pada tahun 1999, sebuah desktop environtment baru lahir sebagai bagian dari proyek GNU, yaitu GNOME atau GNU Network Object Model

Environtment. Proyek GNOME awalnya direncanakan untuk mendistribusikan  kerangka objek yang mirip dengan Microsoft’s OLE. Namun kini akronim tersebut sudah tidak digunakan karena sudah tidak sesuai dengan visi GNOME
Di masa transisi ke era milenium, desktop seperti GNOME dan KDE memiliki banyak pengguna dan menjadi default desktop bagi distro-distro Linux yang sudah ada. Seperti GNOME yang menjadi default desktop untuk distro Ubuntu. Hingga kini, desktop-desktop tersebut sudah berkembang jauh dari versi awalnya baik dalam hal grafis, gestur, fasilitas dll. Seiring berkembangnya tren, ada banyak desktop linux bermunculan yang keragamannya difokuskan sesuai kebutuhan pengguna yang beragam. Mulai dari yang ciamik dengan banyak efek dan gestur, hingga yang sederhana dan ringan. Satu Linux, banyak desktop. Pengguna dapat memilih desktop environtment manapun yang cocok untuk diinstal pada Linux yang mereka gunakan. Misalnya, apabila pada sebuah komputer terinstal Ubuntu Linux yang membawa Unity sebagai default, maka pengguna dapat mengganti Unity dengan desktop environtment lain apabila tidak nyaman dengan desktop default tersebut.
Salah satu desain UI yang kini menjadi tren untuk desktop environtment pada Linux adalah desain flat UI yang mengusung tampilan yang minimalis, dengan gradasi warna yang tajam, tanpa tekstur dan gradien.
Desain yang sederhana ini pertama kali diaplikasikan pada situs-situs web di internet. Desain yang seperti ini memang sedap dipandang mata dengan warna-warna yang cerah dan tidak membuat mata lelah melihatnya. Sekarang desain flat tidak digunakan sebatas untuk situs web saja, bahkan desain ringkas ini sudah mulai menjadi tren untuk user interface pada sistem operasi. Microsoft mulai menggunakan desain ini pada Windows 8, Apple pun sudah menggunakan desain ini sejak tahun 2014 kemarin pada OS X Yosemite (versi 10.10).
Linux sebagai sistem operasi yang “hidup” perkembangannya pun mulai menggunakan  desain flat dan meninggalkan desain 3D yang repot pada bagian bayangan, tekstur dll. Contoh desktop environtment yang sudah menerapkan konsep flat UI adalah Android (versi 4.4 keatas), Atom (OzonOS), KDE Plasma dan Budgie (kloning desktop ChromiumOS). Sampai sekitar akhir 2011, Android mungkin bisa dinobatkan sebagai  sistm operasi berbasis Linux dengan user interrface paling ramah dan mudah digunakan walaupun penggunaannya dikhususkan untuk ponsel pintar. Namun setelah kemudahan pengoprasian semakin berperan besar dalam menentukan tolak ukur peforma suatu sistem operasi, Linux dengan penggunaan desktop terus mengembangkan diri dalam aspek tersebut.
Dalam hal menerapkan tren tampilan pada desktop yang secara default menggunakan konsep khas yang sama dengan versi-versi sebelumnya (seperti Unity, LXDE, Pantheon dll), Linux lebih fleksibel karena berbagai macam desktop environtment dapat dimodifikasi dengan sangat mudah dengan menggunakan satu software khusus yang disediakan untuk memodifikasi desktop environtment yang digunakan yang disebut desktop tweak.
Sekali lagi berkat lisensi yang memberi kebebasan seluruh pengguna Linux untuk memodifikasi dan mengembangkannya, terciptalah banyak tema atau konsep tampilan meliputi ikon, tampilan jendela, dll yang dibuat oleh banyak pengembang diseluruh dunia. Tema-tema yang sudah dibuat kemudian diunggah ke internet dan dapat diunduh lalu diaplikasikan oleh semua pengguna Linux baik secara cuma-cuma atau berbayar. Hal yang paling menarik dalam desktop tweaking adalah, pengguna dapat bebas menentukan konsep tampilan apa yang akan diterapkan. Dari mulai flat UI yang sedang menjadi tren saat ini, desain 3D yang ciamik saat Windows XP berada di era kejayaan, sampai tampilan klasik yang umum dijumpai pada awal abad 21.
Gambar b.3. Hasil penerapan Desktop Tweak pada Ubuntu Linux
Pesatnya perkembangan Linux, dapat dilihat dari munculnya berbagai distro baru dengan membawa desktop environtment original-nya masing-masing. Tentu saja mengikuti tren, beberapa tahun terakhir muncul distro dengan tampilan desktop yang ciamik dan kekinian. Seperti OzonOS dan evolveOS yang sudah menerapkan konsep flat UI secara default tanpa harus melakukan tweaking. Pengguna pun semakin dimudahkan untuk mendapatkan sistem operasi dengan tampilan yang elegan, kekinian dan sedap dipandang mata.

C.    KESIMPULAN

Dari pembahasan diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa Linux bukanlah sistem operasi yang kaku seperti dulu. Perkembangannya yang pesat telah membentuk “wajah baru” bagi Linux yang awalnya terkesan hanya dibuat untuk orang yang mengerti ilmu komputer dan membuat Linux menjadi sistem operasi yang umum dan dapat digunakan, dimodifikasi, dan dikembangkan oleh siapapun bahkan secara bersama dan secara langsung membentuk komunitas.
Linux akan terus berkembang sebagai sistem operasi yang mampu mencukupi kebutuhan pengguna dari berbagai bidang mulai dari pengolahan data, kebutuhan server, hiburan, sampai pendidikan dan bidang-bidang lainnya.


D.    DAFTAR PUSTAKA
·         https://id.wikipedia.org/wiki/Object_Linking_and_Embedding